Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Wanita Muslim versus Wanita Barat

Siraaj
Kamis, 19 April 2012 23:57:01
(Arrahmah.com) -  Islam memposisikan wanita dengan begitu mulia, karena generasi gemilang akan lahir dari rahimnya. Dalam masa kebudayaan jahiliyah sebelum datangnya Islam, wanita dianggap sangat rendah dan hina bahkan tidak sedikit ketika lahir anak perempuan dikubur hidup-hidup. Mereka memandang wanita dengan sebelah mata, bahkan dianggap hina dan tidak berharga. Setelah datangnya Islam, terbukti wanita dapat menghirup udara bebas dan diberikan tugas kepadanya dalam membangun sebuah masyarakat yang berbudaya dan beradab.

Maka kita tidak heran bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya diskriminasi terhadap wanita, tidak ada tuntutan emansipasi wanita dan feminisme. Karena sejak pertama kali di wahyukannya agama Islam kemuka bumi, Islam selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita. Dan syariat Islam yang seperti ini tidak akan luntur di makan zaman, tak akan pernah berevolusi maupun revolusi.

Hal ini berbeda dengan budaya barat dewasa ini yang merupakan produk dari zaman yang akan selalu berubah dan bergeser karena kikisan sang waktu. Sedangkan Islam meletakkan antara pria dan wanita sesuai dengan kodrat masing-masing. Maka dari itu tidak ada alasan bagi kaum muslimin baik pria, wanita, tua, muda untuk menuntut lebih dari yang di gariskan oleh sang maha menetapkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena Allah-lah yang maha mengetahui rahasia-rahasia di balik penciptaan mahluknya.

Bangsa barat dalam reformasi dan modernisasi, menuntut persamaan hak (emansipasi). Namun, konsep emansipasi itu sendiri yang semakin lama semakin tidak jelas, yang seharusnya emansipasi membebaskan wanita dari belenggu perbudakan, tetapi malah menjerumuskan wanita ke jurang perbudakan yang baru. Pada masyarakat kapitalis, wanita dieksploitasi dan menjadi komoditas yang dapat di perjual belikan kepada umum,lihat saja tayangan iklan-iklan di media informasi di sekeliling kita. Di dalam masyarakat yang bebas, wanita di didik budaya permisif yang lepas dari nilai-nilai normatif hanya untuk kepentingan industri. Di luar konsep Islam mereka menuntut kesamaan, kebebasan dan hak asasi manusia, padahal mereka malah mengabaikkan kodrat dan martabat wanita yang seharusnya dijunjung tinggi. Secara tidak langsung mereka menganggap bahwa Islam bersikap diskriminasi terhadap wanita. Padahal Islam menempatkan wanita tidak melebihi atas apa yang telah di gariskan dan dikodratkan sebagai wanita.
Umar bin Khathab pernah berkata, "Pada masa jahiliyah, wanita itu tak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki." Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat.
Tidak jarang ada pernyatraan dari ummat Islam berkata, "Jalan menuju kebangkitan sudah sangat jelas, yaitu dengan cara kita menempuh jalan yang telah ditempuh bangsa Eropa. Lalu, agar kita dapat berubah seperti mereka, maka segala apa yang ada pada mereka harus kita ambil. Pahit, manis, kebaikan, keburukan dan termasuk hal-hal yang disukai juga yang dibenci (Toha Husein, masa depan pengetahuan di Mesir)
Hancurnya Keluarga
Masalah selanjutnya bukan lagi hanya seputar masalah wanita dan hak-hak mereka saja. Akan tetapi, menjadi meluas dan melebar meliputi bagaimana membangun rumah tangga seperti cara dan gaya yang sesuai dengan peradaban Barat. Berkembanglah pemikiran bahwa membina rumah tangga tak perlu lagi memperhatikan aturan dan nilai-nilai. Peran "ibu" tak lagi menjadi tugas wanita saja. Peranan itu sebenarnya adalah tanggung jawab masyarakat. Bahkan, peran itu dapat dilakukan oleh wanita dan laki-laki.
Sebenarnya, di Eropa pemikiran dan ideologi ini melahirkan banyak permasalahan. Sebagai contoh di Perancis tercatat 53% anak-anak yang lahir tak memiliki bapak yang jelas. Di banyak negara Eropa semakin berkembang trend enggan mempunyai anak bahkan enggan untuk menikah. Hubungan laki-laki dan wanita sekadar hubungan seks bebas tanpa ada ikatan, tak ada aturan yang mengikat. Dan selanjutnya mereka menuntut agar dilegalkannya aborsi sebagai dampak langsung dari merebaknya budaya seks bebas.
Hal ini juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas dengan sangat tajam. Pada tahun 1998 tingkat kriminalitas di Amerika mencapai angka yang sangat fantastis. Tindakan perkosaan terjadi setiap 6 menit, penembakan terjadi setiap 41 detik, pembunuhan setiap 31 menit. Dana yang dikeluarkan untuk menanggulangi tindakan kejahatan saat itu mencapai 700 juta dolar per tahun (angka ini belum termasuk kejahatan Narkoba). Angka ini sama dengan pemasukan tahunan (income) 120 negara dunia ketiga.
Kejahatan atas wanita
Merebaknya kejahatan memberikan bahaya tersendiri buat para wanita di Eropa. Hingga PBB pada 17 Desember 1999 mengeluarkan keputusan bahwa tanggal 25 November merupakan hari anti kekerasan pada wanita. Ada banyak fakta dan data yang seharusnya diperhatikan oleh mereka yang terbuai dengan Barat. Di Eropa dan Amerika pada setiap 15 detik terjadi kekerasan atas wanita. Belum lagi jika ditambah dengan aksi pemerkosaan setiap harinya. Sehingga Amerika tercatat sebagai negara tertinggi dalam hal kekerasan terhadap wanita. Menurut catatan UNICEF, 30% kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20% di Inggris.
Belum lagi kejahatan perbudakan yang terjadi di Amerika, CNN pernah menyiarkan laporan bahwa pada tahun 2002 jutaan anak-anak dan wanita dijual belikan di Amerika setiap tahunnya. Lebih dari 120 ribu wanita berasal dari Eropa Timur dan beberapa negara miskin lainnya dikirim ke Eropa untuk dipekerjakan sebagai budak seks. Lalu lebih dari 15 ribu wanita yang mayoritas berasal dari Meksiko dijual ke Amerika untuk dipekerjakan di komplek-komplek pelacuran.
Bisnis haram ini bahkan merenggut kemerdekaan anak-anak di dunia, hingga Sidang Umum PBB pada pertemuan yang ke 54 mengeluarkan keputusan pada 25 Mei 2000 tentang hak anak. Sebuah keputusan yang mendesak agar dilakukan pencegahan agar tak lagi terjadi jual beli anak apalagi kemudian dipekerjakan sebagai budak seks seperti yang terdapat pada jaringan internet.
Memperhatikan apa yang terjadi di Barat, seharusnya membuat kita berfikir panjang jika ingin menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Barat. Dalam penjara Israel terdapat sekitar 100 tawanan wanita. Mengapa Barat diam saja atas semua ini. Di Palestina terdapat lebih dari 250 wanita yang telah menemui syahidnya, belum lagi para wanita yang menderita luka-luka pasca intifadhah. Adapun tentang wanita di Irak, cukuplah bagi kita apa yang disampaikan oleh organisasi dunia pada 22 Februari 2005 yang mengatakan bahwa kondisi wanita Irak tak jauh berbeda dengan kondisi manakala mereka berada di bawah pemerintahan Sadam Husein.
Hal ini menjelaskan bahwa kemerdekaan dan kebebasan wanita seperti yang digemborkan Amerika sama sekali tak menyentuh mereka. Bahkan kondisi mereka di bawah penjajahan Amerika jauh lebih buruk lagi. Mereka menerima perlakuan kasar, dianiaya, dilecehkan bahkan diperkosa.
Penutup
Maka, sebagai umat Islam marilah kita lebih jernih berpikir, dan tidak terpengaruh argumentasi bahwa feminisme dan kesetaraan gender dapat menjadi solusi dari permasalahan kaum perempuan di dunia Islam, semisal kekerasan rumah tangga (domestic violence) , women trafficking, dan permasalahan sosial lainnya. Sampai saat ini, negara-negara Barat tidak pernah bisa membuktikan bahwa mereka berhasil mengatasi problematika sosial tersebut. Justru sebaliknya, kehancuran moral telah merusak tatanan sosial masyarakat Barat, gerakan feminis kemudian disalahkan karena dianggap telah mengubah perempuan menjadi makhluk-makhluk gila karir dan menjauhkan mereka dari kehangatan keluarga. Wallahu a'lam bishshawab.
(siraaj/arrahmah.com)

Sumber : http://arrahmah.com/read/2012/04/19/19489-wanita-muslim-versus-wanita-barat.html

Minggu, 26 Agustus 2012

Biasakan membaca Al-Qur’an di masjid setiap hari, walau beberapa ayat


Muhib Al-Majdi
Jum'at, 25 Mei 2012 10:32:46

(Arrahmah.com) – Kesibukan seorang muslim dalam mencari nafkah seringkali memakan hampir setengah usianya. Tak jarang seorang muslim harus berangkat bekerja sejak jam enam pagi, dan baru tiba kembali di rumah pada jam lima sore. Kondisi fisik yang kelelahan seringkali membuat kwantitas dan kwalitas taqarrub kepada Allah ikut anjlok.

Di antara tandanya, banyak pekerja muslim yang tidak hadir di masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib dan Isya' secara berjama'ah. Mereka melaksanakan shalat wajib di rumah. Mereka kemudian mengistirahatkan fisik yang telah lelah, dengan tidur atau menonton TV atau hiburan lainnya.
Untuk kesegaran ruhani dan pembinaan iman, mereka mengandalkan nasehat dalam khutbah Jum'at atau pengajian rutin seminggu sekali di tempat kerja atau masjid terdekat. Tidak heran apabila banyak di antara mereka kesulitan membaca mushaf Al-Qur'an beberapa halaman per hari. Bagaimana menyiasati problem spiritual seperti itu?

Jumat, 17 Agustus 2012

Haruskah Generasi Kembali Berulang?

Redaksi II | Jumat, 03 Agustus 2012 - 14:56:00 WIB | dibaca: 862 pembaca
Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
Oleh : Azimah Rahayu 
Satu tahun berlalu. Fitra, keponakan kecil saya berusia tepat tiga tahun. Semestinya saya menyambutnya dengan gembira dan bahagia. Karena dalam usia yang kesekian itu seorang anak tengah lucu-lucunya. Tapi ternyata kali ini saya menyambut tiga tahun usianya dengan banjir airmata.

Sejak terakhir kali saya mencatat perkembangannya ketika dia berusia dua tahun, Fitra telah berkembang sangat pesat. Dalam waktu satu tahun sudah begitu banyak hal yang dia pelajari. Nyaris seluruh kosa kata bahasa jawa sudah dia kuasai dan digunakan dengan tepat, serta tanpa cadel kecuali sedikit saja. Bahkan dia suka mengulang ungkapan bahasa Indonesia yang saya pakai namun tidak lazim dalam percakapan bahasa Jawa. Suatu hal yang menggembirakan seharusnya.

Kamis, 16 Agustus 2012

Lima Aktivitas Dai Dalam Menjaga Iklim Ramadhan

23/7/2010 | 12 Shaban 1431 H | Hits: 6.998

Kirim Print
Ramadhan (amrah5774.wordpress.com)
Ramadhan (amrah5774.wordpress.com)
dakwatuna.com - Sebagai dai kita bergembira sebentar lagi akan bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Bukan karena kita akan mendapat banyak jadwal ceramah, tapi karena semua aktivitas Ramadhan (ansyithah ramadhaniyah) mendorong kita untuk kembali kepada fitrah.
Kita juga tahu betul bahwa Ramadhan sebagai bulan tarbiyah bukanlah program yang berdiri sendiri. Jika lulus dari program Ramadhan dan kita telah masuk program Allah dalam bentuk tajdid al-fitrah di bulan Syawal (Idul Fitri), program pembekalan ruhul badzl wa tadh-hiyah di bulan Dzulhijah (Idul Adha) sudah menunggu. Di bulan itu kita disiapkan untuk menjadi pribadi yang total dalam berdakwah dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada.
Syakhshiyah (figur) dai yang seperti tersurat dalam ayat 207 Al-Baqarah dan ayat 111 At-Taubah lah yang diinginkan Allah swt. terbentuk di diri kita.
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Al-Baqarah: 207)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 111)

Karena itu, kita sangat berharap nanti saat orang banyak bergembira lantaran meninggalkan Ramadhan, kita justru bersuka cita karena memiliki perbaikan fitrah. Sebab, hanya dengan kefitrahan yang utuhlah, kita akan sanggup menjalani kehidupan ini secara benar sesuai dengan syariat Islam yang Allah turunkan sebagai way of life (lihat Ar-Rum ayat 30). Jika fitrah kita tak utuh, maka daya serap dan aplikasi keislaman kita akan tidak sempurna.

Rabu, 08 Agustus 2012

Menyikapi Kesalahan


3/8/2012 | 15 Ramadhan 1433 H | Hits: 679
 
 
dakwatuna.com - Berbuat kesalahan bukanlah suatu akhir perjalanan hidup kita walau kesalahan itu amatlah besar. Dalam menghadapi kesalahan tak sedikit yang putus asa, depresi bahkan berani untuk mengakhiri hidupnya. Dari sini para pakar psikologi, filsafat dan sosial mencari solusi untuk memecahkannya. Namun usaha mereka terbilang nihil bahkan keadaan pun seolah semakin memprihatinkan. Maka sudah saatnya kita selaku muslim untuk kembali pada metode yang telah dicontohkan oleh panutan dan idola kita (Nabi Muhammad SAW) dalam menyikapi kesalahan.

Rasulullah selalu menghadapi kesalahan dengan jiwa yang teduh dan tenang, tak jarang ia pun menyambutnya dengan senyum. Hal ini tak terlepas dari dua hal. Pertama, karena kasih saying (rahmah) yang sudah merasuk pada jiwanya yang suci. “Tidaklah kami utus engkau selain sebagai rahmat bagi seluruh alam”. Ia selalu memandang orang yang salah sebagai manusia biasa dengan kemungkinan ia sedang berada dalam keadaan terpuruk dan jatuh hingga membutuhkan orang yang menegakkan dan menopangnya bukan orang yang mencela atau menghardiknya. Kedua, karena ia menganggap bahwa kesalahan merupakan hal yang sangat manusiawi, dan it bisa terjadi pada setiap orang, siapa pun dia.

Beberapa contoh “terapi” Rasul terhadap kesalahan telah dicantumkan oleh DR Rojib Sirjani dalam bukunya Nuqtoh, Wa Min Awwalis Satr (Cukup, Mulailah lembaran baru). Secara garis besar penulis buku ini membagi metode Rasul ini dalam tiga poin besar; metode Rasul dalam menghadapi kesalahan orang-orang yang tidak tahu (jahil), menghadapi kesalahan orang yang berdosa (mudznib) dan menghadapi kesalahan yang mengarah pada diri Rasul sendiri.

Ketidaktahuan (jahl), walau merupakan hal tercela yang hanya disebutkan dalam Al-Quran untuk mencela dan menghina namun setiap manusia pasti memiliki sifat ini. Karena seseorang mungkin tahu hal a namun ia tidak mengetahui hal b, begitu pula sebaliknya.  Akan tetapi ketidaktahuan yang dilarang di sini adalah ketidaktahuan kita terhadap hal-hal yang sudah semestinya diketahui dalam agama.

Suatu ketika seorang badui datang ke masjid kemudian ia shalat. Usai shalat Rasul memintanya untuk mengulangi shalatnya. Ia pun mengulanginya hingga tiga kali, namun jawaban Rasul hanya satu irji’ fa sholli fainnaka lam tusholli (ulangi kemudian shalatlah kembali karena kamu belum melaksanakan shalat). Akhirnya si badui menyerah dan menyatakan bahwa hanya itulah yang ia bisa. Lalu Rasul menjelaskannya tata cara shalat yang benar.

Sabtu, 07 April 2012

Kamu Cantik, Tapi…



dakwatuna.com - “Aneh deh sama status teman kamu.” Kata Faiz sambil merengut mendekati kursi Naya.
“Teman aku yang mana Iz? Emang statusnya bagaimana sampai bikin kamu bête?” Naya balik bertanya.
“Bukan bête sih. Hanya merasa aneh saja. Itu tuh, si Raina. Statusnya itu isinya tentang wajah seseorang yang cantik atau tampan tapi tidak pantas untuk di pamerkan.” Faiz menjelaskan kepada Naya dengan tetap merengut.

“Maksudnya kamu, di pamerkan bagaimana Iz? Aku ga ngerti.” Naya yang sedang fokus mengetik laporan bulanan kemudian menoleh ke arah Faiz.
“Yaa… contohnya di jadikan foto profil Facebook atau menaruhnya di internet.”
“Ooh gitu toh. Aku bisa jelasin ke kamu. Karena aku juga pernah merasa aneh sama dia.” Naya hendak berbagi cerita.

“Gimana Nay?” Faiz penasaran dengan penjelasan Naya.
“Iya, sebelumnya aku sempat kesal sama Raina. Tiap kali ada yang menaruh foto dia ke profilnya, selalu dia hapus. Aku sampai berfikir. Ini anak kok bisa segitunya. Apa dia ga berfikir, kalau orang yang menaruh fotonya itu akan tersinggung atau kesal…”
“Terus apa kata Raina?” Faiz memotong penjelasan Naya.
“….. Dia bilang, itu hak dia untuk tidak mempublikasikan dirinya ke dunia maya. Dia menghindari yang namanya cyber crime dan fitnah yang di timbulkan jika dia memasang foto dirinya. Untuk hal yang satu itu, dia amat kekeuh sama prinsipnya. Kalau memang mau tahu orangnya kan bisa bertemu langsung tapi bukan sengaja di pamerkan. Kata dia begitu” Jelas Naya.

Senin, 02 April 2012

Hukum Mengambil Bunga Bank dari Tabungan




dakwatuna.com - Sesungguhnya bunga yang diambil oleh penabung di bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta. Artinya, apa yang diambil seseorang tanpa melalui usaha perdagangan dan tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas pokok hartanya, maka yang demikian itu termasuk riba. Dalam hal ini Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Baqarah: 278-279)

Yang dimaksud dengan tobat di sini ialah seseorang tetap pada pokok hartanya, dan berprinsip bahwa tambahan yang timbul darinya adalah riba. Bunga-bunga sebagai tambahan atas pokok harta yang diperoleh tanpa melalui persekutuan atas perkongsian, mudharakah, atau bentuk-bentuk persekutuan dagang lainnya, adalah riba yang diharamkan. Sedangkan guru saya Syekh Syaltut sepengetahuan saya tidak pernah memperbolehkan bunga riba, hanya beliau pernah mengatakan: “Bila keadaan darurat – baik darurat individu maupun darurat ijtima’iyah – maka bolehlah dipungut bunga itu.” Dalam hal ini beliau memperluas makna darurat melebihi yang semestinya, dan perluasan beliau ini tidak saya setujui. Yang pernah beliau fatwakan juga ialah menabung di bank sebagai sesuatu yang lain dari bunga bank. Namun, saya tetap tidak setuju dengan pendapat ini.

Senin, 12 Maret 2012

Taubat (Bagian ke-3): Yang Menyebabkan Dosa Kecil Menjadi Besar di Sisi Allah SWT

Yang Menyebabkan Dosa Kecil Menjadi Besar di Sisi Allah SWT
1. Jika dilakukan terus menerus

dakwatuna.com - Allah SWT berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴿١٣٥﴾
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”  (QS. Ali Imran: 135)

Dosa besar yang hanya dilakukan sekali, lebih bisa diharapkan pengampunannya dari pada dosa kecil yang dilakukan terus menerus, jika seorang hamba meremehkannya. Setiap kali seorang hamba menganggap besar sebuah dosa niscaya akan kecil di sisi Allah, dan setiap kali ia menganggap remeh sebuah dosa niscaya akan menjadi besar di sisiNya.

Selasa, 28 Februari 2012

Kasih Sayang Allah



dakwatuna.com - Maha Suci Allah yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya iman. Cahayanya tidak akan menyilaukan mata, justru akan menimbulkan pendaran pada orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tidak semua mau terkena pendarannya, tidak apa, terpenting kita telah membagi sinarNya. Karena hanya hati yang telah merasakan nikmatNya bercengkerama dengan Allah yang tak sanggup menghalau cahaya iman. Dan karena hanya Allah yang mampu membuka pintu hidayah kepada hamba-hambaNya.


Jika bukan karena kasih sayang Allah yang teramat sangat pada hambaNya, pasti Dia akan tetap membiarkan kita jatuh pada lubang kegelapan. Jangan pernah menyalahkan Allah atas keburukan yang terjadi. Hanya kita saja yang selalu menghalau kasih sayangNya.
Kita adalah sumber kelemahan, sedang Allah adalah sumber kekuatan. Allah tidak membutuhkan apapun dari kita, Dia yang menciptakan kita. Kita yang sangat membutuhkan uluran kasih sayangNya. Amat sombongnya diri kita, jika telah mampu mengucapkan bahwa apa yang kita usahakan adalah jerih payah sendiri. Amat sombongnya kita, jika dalam helaan nafas pernah berniat untuk melupakan bahwa ada campur tangan Allah di dalamnya. Rabbighfirlii…

Minggu, 05 Februari 2012

Empat Sikap Terhadap Kesalahan



dakwatuna.com – Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Manusia seringkali disebut sebagai makhluk yang tidak luput dari salah dan dosa, namun ungkapan ini bukan berarti dengan seenaknya ia bisa melakukan perbuatan yang bernilai dosa itu, sehingga bila ia melakukan perbuatan dosa, itupun sifatnya sebagai dosa yang tidak disengaja atau karena ia tidak paham bahwa hal itu sebagai sesuatu yang bernilai dosa. Agar tidak berakibat fatal atas dosa yang telah dilakukan itu, ada empat sikap penting yang harus kita tunjukkan terhadap kesalahan. Pertama adalah mengakui kesalahan dan tidak merasa suci. Orang yang bersalah, meskipun kesalahan itu dilakukan karena tidak tahu atau dalam masyarakat kita sering disebut dengan kesalahan yang tidak disengaja, ia tetap harus mengakui bahwa kesalahan telah dilakukannya sehingga jangan sampai ia tidak merasa bersalah dan tidak mau bertaubat atau meminta maaf atas kesalahannya itu. Manakala seseorang mau mengakui kesalahan akan membuatnya mudah untuk segera bertaubat sehingga tidak merasa suci yang pantas membela diri, Allah swt berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS An Nisa [4]:17).

Sabtu, 28 Januari 2012

Menembus Batas Kesabaran




dakwatuna.com - Betapa sulitnya kita menahan amarah, betapa tak mudahnya mempraktekkan sifat sabar. Banyak orang yang menguasai teori kesabaran tapi tak banyak yang mampu mengaplikasikannya dalam keseharian. Bisa jadi di antara orang-orang tersebut adalah saya. Untuk itu, hari ini saya ingin membuat sedikit catatan lagi sebagai pengingat diri sendiri khususnya dan kawan-kawan sekalian.

Kemarin saya hadir dalam undangan pernikahan seorang kawan. Saya hanya ingin mengambil satu adegan dalam perhelatan sakral tersebut. Yaitu tatkala para undangan mengantri makanan. Saya lihat, mereka begitu sabar menanti dalam antrian untuk mendapatkan makanan yang mereka sukai. Antrian yang saya lihat cukup panjang, tapi saya tak mendengar adanya keluhan yang terlontar. Mungkin saja karena tempatnya cukup kondusif, berada di dalam gedung mewah dan ber-AC. Bisa di bilang cukup nyaman.

Tapi sayangnya, jarang saya melihat kesabaran seperti itu jika kondisi yang di hadapi jauh dari kesan kenyamanan. Misalnya, ketika kita sedang berada di dalam angkot menuju tempat kegiatan. Tak sesuai dengan kenyataan dan terjadilah kemacetan. Perkiraan waktu pun jauh melesat, yang tadinya di perkiraan pukul segini harusnya sudah sampai tujuan ternyata masih di jalan karena terjebak kemacetan.

Minggu, 22 Januari 2012

Bila Hati Sebening Embun



Oleh: Ineu Ratna Utami

dakwatuna.com - Rasa takjub kerap menjalari hati setiap kulihat air bening itu berkilauan di dedaunan atau rerumputan saat matahari mulai menyapa pagi. Biasanya segera kuhampiri benda-benda di mana bulir memukau itu berada. Kutatap lama atau terkadang muncul isengku, menepuknya. Bersorak riang hati bila si bulir bening bernama embun itu kutemukan menempel di daun talas. Rasa heran sering melingkupi lipatan-lipatan otakku saat melihat daun talas yang tetap terlihat kering walau disinggahi sang embun. Kugerak-gerakkan daun talas itu, dan sang embun mengikuti gerakan itu dengan lincah.

Selarik memori di masa kecil kala kulihat embun, ternyata tak berubah hingga kini. Sang embun selalu berhasil memukau mataku. Entahlah, keberadaannya di antara dedaunan, bunga maupun rerumputan selalu mengalirkan kesejukan di mataku dan kilau beningnya yang memantulkan cahaya sebagaimana cermin, menghadirkan rasa takjub memenuhi rongga hati.

Saudaraku, adakah engkau pun mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan kala memandangi embun? Kalau ternyata engkau belum pernah memperhatikannya, cobalah sekali waktu. Engkau bisa menemukan wajah sang embun di pagi hari atau bisa saja dengan browsing foto-fotonya, dan rasakanlah sensasinya.

Bila kita perhatikan bagaimana embun terbentuk, kurasa ada sesuatu yang menarik untuk kita pelajari darinya. Embun biasanya terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Menurut teorinya, embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik di mana udara tidak dapat lagi menahan semua uap air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban tinggi.

Sabtu, 14 Januari 2012

Bangun Tidur






Oleh Nasruloh

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali sesudah kami mati, dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali.” (HR. Bukhari)



Saat tersadar dari tidur apa yang pertama terlintas dalam pikiran? Cobalah menginventarisirnya, ini sangat penting untuk mengetahui obsesi hidup, perasaan dan pemikiran yang sedang berkecamuk dalam jiwa. Saat bangun tidur kesadaran belum optimal, sehingga yang pertama kali muncul adalah apa yang sedang mendominasi alam bawah sadar manusia. Untuk menilai siapakah diri kita sebenarnya, ingatlah lintasan pemikiran yang pertama kali muncul saat bangun tidur.



Islam menstandarkan kebaikan kualitas pribadi manusia dengan melihat apa yang diingat dan diucapkan saat bangun tidur. “Alhamdulilah” Segala puji bagi Allah adalah kalimat pertama yang terlintas dalam pikiran orang yang beriman. Ia merasakan, saat ruh kembali ke dalam raga itulah nikmat pertama terbesar yang layak untuk disyukuri dan dirayakan. Saat terbangun, keceriaan muslim seperti keceriaan pedagang melihat peluang bisnis yang menguntungkan, keceriaan pelantun lagu disodorkan lirik lagu baru, keceriaan artis disondorkan kontrak main film. Ia melihat peluang dan harapan besar untuk menciptakan masa depan kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik dan bernilai, ada peluang beribadah, peluang bertaubat, peluang beramal soleh, memperbaharui keikhlasan, mendayagunakan kebaikan dan meminimalisir keburukan. Peluang dan harapanlah yang membuat hidupnya lebih bergairah.



Minggu, 08 Januari 2012

Yuk Bersyukur



Oleh: Rahmatmantabz

Ilustrasi (inet)



dakwatuna.com - “Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan tetapi Allah memberikan apa yang selalu kita butuhkan.”



Benar juga kata-kata di atas. Tetapi tidak pernah terbesit di pikiran kita kata-kata tersebut. Saya pun sadar bahwa memang tak semua yang kita inginkan terpenuhi dan apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Yuk coba kita telaah firman Allah SWT,



“Diwajibkan Atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu, tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)



Banyak keinginan yang ingin kita miliki tetapi kita tidak tahu itu baik untuk kita atau tidak. Ada yang marah bahkan benci kepada Allah karena keinginan tidak pernah terpenuhi, kita harus sadari kalau semua keinginan kita pasti tidak semua Allah kabulkan. Kenapa? Agar kita selalu berada dalam batasan dan tidak lupa kepada Allah.



Di zaman Rasulullah ada suami istri yang miskin. Waktu itu suami ini berjamaah shalat dzuhur dengan Rasulullah, ketika selesai shalat suami ini pun langsung pergi tanpa berdoa kepada Allah. Ini membuat Rasulullah keheranan, Rasulullah pun menghampirinya suami ini dan bertanya,



Minggu, 01 Januari 2012



Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun.

Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu Juara No. 1 di Dunia





Tadi pagi saya melihat perempuan setengah baya yang berpakaian ketat bak anak muda dan makeup yang cukup tebal. Saya taksir usianya jauh lebih muda dari ibu saya, tapi dari garis wajahnya nampak perempuan itu terlihat lebih tua. Apakah faktor makeup yang terlalu tebal atau pakaian yang terlalu ketat. Bukan bermaksud untuk membandingkannya dengan ibu saya. Bukan pula mengkritik penampilannya yang tidak sesuai syariat, hanya saja saya ingin berucap Alhamdulillah yang tanpa henti karena Allah telah menganugerahkan seorang ibu yang luar biasa kepada saya.

Dulu, perilaku saya tak jauh berbeda dengan anak lain di masa kecil dan menginjak remaja, nakal dan suka menentang orang tua terutama ibu saya. Sikap pemberontak yang tumbuh pada diri remaja membuat saya seringkali mengabaikan perkataan ibu saya meskipun tidak sampai berlebihan.

Namun waktu memberikan penyadaran kepada saya, seiring bertambahnya usia dan pemahaman saya akan agama dan kehidupan yang telah dan akan dilalui. Ketika mata hati saya mulai terbuka, bahwa selama ini ada sosok perempuan mulia yang seringkali saya abaikan dan tinggalkan untuk kesibukan saya sendiri. Perempuan mulia itu, yang rambutnya kini telah di tumbuhi uban dan raut wajahnya yang tak sehalus dahulu masih saja menunjukkan ketulusannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Meskipun terkadang balasan dari ketulusannya itu adalah sikap tak acuh dari saya.

Kamis, 15 Desember 2011

Aku Menjual Diriku







Puisi dan Syair
14/12/2011 | 19 Muharram 1433 H Please wait
Oleh: Eko Wardaya



dakwatuna.com

Seorang bertanya dengan terheran-heran kepadaku

“Kenapa kau begitu antusias dalam aktivitas ini?”



Sejenak ku tertegun menyelami pertanyaan seorang kawan

Lalu teringat ocehan banyak orang kepadaku

“Untuk apa melakukan semua ini”

“Apa yang kau dapatkan?”

“Lebih baik kau urus dirimu sendiri”

Begitu banyaknya sampai ku tak ingat


Minggu, 04 Desember 2011

RENUNGAN UNTUK PEMUDA Bag.II



Pemuda Islam, Bangkitlah !!!

Misi yang jauh lebih besar dari misi-misi agen FBI,CIA, bahkan agen Mossad yang tak pernah berhenti untuk menghancurkan umat Islam. Misi yang langsung Allah berikan untuk kita.Misi untuk memberlakukan hukum-hukumNya diseluruh penjuru dunia dan untuk mengalihkan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya. Juga untuk membebaskan umat manusia dari alam yang sempit menuju alam bebas merdeka. 

Misi yang sesuai dengan sunatullah penciptaan manusia, yaitu untuk mewujudkan ketaatan dan pengabdian kepada Allah serta untuk menyerahkan diri sepenuhnya terhadap seluruh keputusanNya. Sebagai mana yang dikatakan Allah dalam firmanNya :

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." ( Adz Dzariyat : 56 )


Disadari atau tidak masa muda adalah masa yang paling produktif bagi seorang insan. Maka sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakan  begitu saja masa muda kita. Masa disaat fisik kita masih sangat kuat, sel-sel otak kita masih cerdas untuk menangkap materi-materi yang kita dapatkan,dan terutama masa yg akan dimintai pertanggungjawabanNya.

Dengan misi yang teramat berat diatas sebagai seorang pemuda muslim kita harus memiliki lima macam kriteria yang harus kita yakini sepenuhnya, yaitu :

1.  Iman yang kuat


Jagalah dalam hati kalian agar Iman tidak mudah goyah dan surut.Sesuai firman Allah dalam QS Al-Hujurat : 15.


Iman yang kuat, seperti pohon  yang akarnya menghujam kedalam tanah,  batangnya menjulang kuat, dan diantara daunnya yang rimbun akan dihasilkan buah akhlaq dan amal yang manis rasanya. Maka inilah saatnya memperkokoh iman kita. Mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan  yang akan selalu berputar dalam catatan kehidupan kita.


Sabtu, 26 November 2011

RENUNGAN UNTUK PEMUDA Bag.1

Salah satu kisah yang diabadikan Allah didalam al-quran adalah kisah sekumpulan pemuda penghuni gua yang disebut ashabul kahfi. Kisah sekumpulan pemuda yang demi menjaga imannya mereka rela meninggalkan segala buaian dunia dan perhiasannya, mereka menyerahkan perlindungan kepada Alloh; perjuangan dan pengorbanan yang didorong keyakinan yang kuat terhadap Allah demi mencari dan mempertahankan kebenaran hakiki kebenaran Iman dan Islam.

Kisah Ashabul Kahfi menjadi pelajaran bagi kita agar dapat meneladani keteguhan iman. Mereka hidup dalam suasana masyarakat yang jauh dari kebenaran namun mereka tidak larut mengikuti aqidah sesat dan kebiasaan buruk masyarakatnya.
Wahai pemuda adakah kita memiliki sifat sebagaimana telah ditunjukkan oleh pemuda kahfi? Usia muda adalah usia yang disebut dalam al-quran dengan sebutan al-bulugh al asyudd yang dapat diartikan telah cukup umur dan sempurna akalnya.
Usia muda adalah usia yang seharusnya sangat produktif untuk menghasilkan karya-karya karena secara fisik dan akal telah berkembang sempurna, begitupun Rosululloh dan Nabi Musa diangkat menjadi nabi pada masa akhir mudanya dengan sebelumnya mengalami penggemblengan sejak awal masa mudanya.

Senin, 21 November 2011

Ujian dan Kadar Keimanan

Oleh Laela Awalia

Tulisan ini aku buat untuk menghibur diri sendiri. Syukur-syukur kalau ada orang lain yang juga terhibur setelah membaca tulisanku ini. Aku ingat betul, aku menulis ini ketika hatiku sedang benar-benar dilanda jenuh.

Bosan super akut! Lelah dengan semua masalah yang menimpaku. Dan bahkan, hampir putus asa. Astaghfirullahaladzim... syukurlah, ketika aku membaca Quran dan terjemahannya, aku mendapati satu ayat yang menjadi penguatku dan membuatku serasa terlahir kembali.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S. Al Ankabut:2).