3/8/2012 | 15 Ramadhan 1433 H | Hits: 679

dakwatuna.com - Berbuat kesalahan bukanlah suatu
akhir perjalanan hidup kita walau kesalahan itu amatlah besar. Dalam
menghadapi kesalahan tak sedikit yang putus asa, depresi bahkan berani
untuk mengakhiri hidupnya. Dari sini para pakar psikologi, filsafat dan
sosial mencari solusi untuk memecahkannya. Namun usaha mereka terbilang
nihil bahkan keadaan pun seolah semakin memprihatinkan. Maka sudah
saatnya kita selaku muslim untuk kembali pada metode yang telah
dicontohkan oleh panutan dan idola kita (Nabi Muhammad SAW) dalam
menyikapi kesalahan.
Rasulullah selalu menghadapi kesalahan dengan
jiwa yang teduh dan tenang, tak jarang ia pun menyambutnya dengan
senyum. Hal ini tak terlepas dari dua hal. Pertama, karena
kasih saying (rahmah) yang sudah merasuk pada jiwanya yang suci.
“Tidaklah kami utus engkau selain sebagai rahmat bagi seluruh alam”. Ia
selalu memandang orang yang salah sebagai manusia biasa dengan
kemungkinan ia sedang berada dalam keadaan terpuruk dan jatuh hingga
membutuhkan orang yang menegakkan dan menopangnya bukan orang yang
mencela atau menghardiknya. Kedua, karena ia menganggap bahwa
kesalahan merupakan hal yang sangat manusiawi, dan it bisa terjadi pada
setiap orang, siapa pun dia.
Beberapa contoh “terapi” Rasul terhadap kesalahan telah dicantumkan oleh DR Rojib Sirjani dalam bukunya Nuqtoh, Wa Min Awwalis Satr (Cukup,
Mulailah lembaran baru). Secara garis besar penulis buku ini membagi
metode Rasul ini dalam tiga poin besar; metode Rasul dalam menghadapi
kesalahan orang-orang yang tidak tahu (jahil), menghadapi kesalahan
orang yang berdosa (mudznib) dan menghadapi kesalahan yang mengarah pada
diri Rasul sendiri.
Ketidaktahuan (jahl), walau merupakan hal
tercela yang hanya disebutkan dalam Al-Quran untuk mencela dan menghina
namun setiap manusia pasti memiliki sifat ini. Karena seseorang mungkin
tahu hal a namun ia tidak mengetahui hal b, begitu pula sebaliknya.
Akan tetapi ketidaktahuan yang dilarang di sini adalah ketidaktahuan
kita terhadap hal-hal yang sudah semestinya diketahui dalam agama.
Suatu
ketika seorang badui datang ke masjid kemudian ia shalat. Usai shalat
Rasul memintanya untuk mengulangi shalatnya. Ia pun mengulanginya hingga
tiga kali, namun jawaban Rasul hanya satu irji’ fa sholli fainnaka lam tusholli (ulangi
kemudian shalatlah kembali karena kamu belum melaksanakan shalat).
Akhirnya si badui menyerah dan menyatakan bahwa hanya itulah yang ia
bisa. Lalu Rasul menjelaskannya tata cara shalat yang benar.